Ketika liburan selalu dianggap salah satu cara untuk melarikan diri dari rutinitas sehari-hari yang padat serta pekerjaan yang menumpuk, setelah hampir setahun waktunya dihabiskan untuk bekerja, maka liburan merupakan mekanisme alamiah manusia untuk membuat dirinya menjadi lebih rileks dan santai, kini merupakan sebuah “kewajiban” yang harus ditunaikan pada akhir pekan, tanggal merah, liburan sekolah atau akhir tahun, tempat-tempat wisata selalu ramai dikunjungi.
Untuk berlibur bersama sahabat, rekan sejawat, dan keluarga tentunya memerlukan sarana transfortasi yang aman, nyaman dan harga yang terjangkau.
Salah satu industri yang “paling sexy” saat ini berdasarkan perilaku konsumen kelas menengah adalah liburan (travelling).
Dalam industri liburan dapat di kelompokan menjadi 4(empat) aspek yaitu:
- Industri PenerbanganSejak tahun 2008 sampai 2014, pertumbuhan jumlah penumpang pesawat terbang mencapai 16% pertahun, pertumbuhan ini termasuk yang tercepat di Asia, bahkan dunia. Untuk kebutuhan liburan, pesawat terbang memang salah satu solusi yang lebih baik dibandingkan jenis transfortasi lain karena kecepatannya.Pada tahun 2000 Lion Air sebagai pelopor maskapai penerbangan di Indonesia berbiaya murah murah (low cost carrier/LCC), sejak saat itu pesawat terbang muncul sebagai moda transfortasi yang sangat kompetitif dibanding bus atau kereta api. Untuk berliburan ke luar kota misalnya Yogya, Surabaya, Pontianak bahkan ke Luar Negeri misalnya Malaysia, masyarakat cenderung menggunakan pesawat terbang daripada kereta api, bus atau kapal laut.Setelah lebih dari 10 tahun beroperasi, LCC kini telah menjadi sang primadona pendorong tumbuhnya industri liburan di Tanah Air. Dulu berpergian dengan pesawat terbang hanya bisa dilakukan oleh kalangan atas, kini telah bisa dilakukan oleh semua kalangan, termasuk kalangan bawah.
- Agen Perjalanan dalam jaringan (Online travel agent/OTA)Pada era internet memudahkan kita melakukan perencanaan liburan, jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Akibatnya banyak keputusan pembelian paket wisata melalui Agen Perjalanan dalam jaringan (OTA). Travel agent tradisional makin ditinggalkan karena makin tidak relevan dengan perubahan perilaku masyarakat yang semakin maju (dulunya kuper dan gaptek), sementara OTA tumbuh pesat bak jamur di musim penghujan, beramai-ramai mengincar pasar traveller Indonesia yang maha besar (salah satunya alvindotravel.com).

